Do More Adventure !

#4 of 7 | prev product Prev - Next next product
printer email

product arrow Kerinci : Berdiri di Titik Tertinggi Gunung Berapi Indonesia

Satu jam empat puluh lima menit penerbangan dari Jakarta ke Padang membuka petualangan saya bersama teman-teman untuk mendaki Gunung Kerinci. Kota Padang kami pilih di akhir tahun 2013 sebagai titik awal pemberangkatan menuju Kecamatan Kayu Aro, sebuah kawasan sejuk di kaki Gunung Kerinci provinsi Jambi.

Begitu tiba di Bandara Internasional Minangkabau kendaraan sudah langsung menjemput kami. Mobil melaju melewati jalan menanjak dan menikung-nikung melewati Taman Hutan Raya Muhammad Hatta dan Muara Labuh. Jarak 300 kilometer ditempuh hampir 7 jam.

Di kejauhan tampak kokoh Gunung Kerinci dengan puncak Indrapura nya yang kokoh membuat kami terdiam merasakan beratnya medan yang akan kami hadapi esok hari. Dada saya sendiri berdegup kencang melihat tingginya Kerinci menjulang di depan mata. Teringat pendakian pertama saya tahun 1992 ketika masih sekolah dan selang 21 tahun kemudian saya kembali menyambangi Kerinci.

Kami pun tiba di Kayu Aro disambut perkebunan teh yang menyejukkan. Memang daerah Kayu Aro terkenal sebagai daerah penghasil teh. Perkebunan teh Kayu Aro milik PTPN 6 adalah kebun teh terluas di dunia dalam satu hamparan. Bahkan teh produksi dari Kayu Aro diekspor ke berbagai negara di dunia.

Esok pagi, dengan segala persiapan kami bergerak menuju Pintu Rimba 1800 meter di atas permukaan laut (mdpl), sebagai titik awal pendakian Gunung Kerinci. Dari sinilah kita akan memasuki hutan basah Sumatra. Berdoa adalah ritual wajib dilakukan sebagai wujud bahwa kita tidak ada apa-apanya dibanding ciptaan Allah pada alam semesta ini. Sekitar pukul 09.00 WIB kami mulai berjalan kaki menyusuri jalur setapak menuju Shelter 3 sebagai target camp untuk bermalam.

Saya mencoba mengingatkan kepada sesama pendaki untuk mencoba berpikir, gunung Kerinci dengan ketinggian 3805 mdpl bisa didaki dalam tempo 2 hari pulang pergi. Sementara di Pulau Jawa terdapat Gunung Semeru yang lebih rendah (3676 mdpl) serta di Lombok terdapat Gunung Rinjani (3726 mdpl) ditempuh dalam waktu 3-4 hari. Berarti dalam hitungan logika, medan yang akan dihadapi memaksa kita mendaki lebih curam dan lebih berat, karena pendakian hanya memakan waktu 2 hari.

Bagi saya, pendakian Kerinci bisa dibagi menjadi 2 tahap. Yaitu tahap pertama melewati 3 pos pendakian. Dari Pintu Rimba menuju Pos 1, 2 dan 3 jalur yang dihadapi cenderung datar dan di akhir menuju Pos 3 (2200 mdpl) cukup menanjak. Di tahap inilah sebaiknya pendaki bisa bergerak cepat dan tidak membuang waktu banyak beristirahat.

Tahap kedua melewati 3 shelter. Inilah jalur yang akan menguras tenaga serta menurunkan tingkat konsentrasi. Karena yang akan dihadapi tanjakan-tanjakan curam yang membuat kita berpikir, "ternyata naik gunung itu capek yah". Apalagi menjelang Shelter 3 (3300 mdpl) yang hampir seluruhnya didominasi "Jalur Selokan". Kenapa saya sebut Jalur Selokan, karna kita akan berjalan di dalam ceruk mirip selokan yang dalamnya sekitar 2 meter. Di sini kerja sama antara kaki dan tangan sangat diperlukan. Kemiringan dan terkadang menghadapi "tembok" curam memaksa tangan mencari-cari akar pohon gleichenia (tumbuhan paku-pakuan yang berada di atas ketinggian 2500 mdpl) untuk menjaga keseimbangan tubuh. Dalam hati saya, kelak jika kembali ke Kerinci, saya harus mempersiapkan diri dengan kemampuan split kaki yang lebih sempurna. Karena jangkauan kaki ternyata sangat mempengaruhi kecepatan mendaki di jalur ini.

Pendakian di hari pertama kami tutup dengan menikmati sunset di camp Shelter 3. Camp ini merupakan areal batas vegetasi dan pasir serta bebatuan. Shelter ini biasa digunakan sebagai lokasi berkemah dan terdapat mata air kecil. Dari titik ini menuju Puncak Kerinci (3805mdpl) dicapai sekitar dua jam perjalanan, dengan jalur menanjak tanah berpasir dan batuan yang rapuh serta jurang yang dalam di kiri kanan.

Pukul 3 dinihari kami bangun untuk mempersiapkan diri summit attack. Entah hanya perasaan saja atau memang penuh pengharapan kepada Sang Pencipta, ritual berdoa kami pagi ini terasa lebih lama dan panjang dibanding hari sebelumnya. Di tengah deru angin yang bertiup cukup kencang, kami khusyuk menundukkan kepala mengharap kemudahan dan kelancaran dalam pendakian ini.

Senter atau headlamp sudah terpasang, jaket anti angin pun sudah menutup tubuh agar tetap hangat selama perndakian. Kami saling mengingatkan agar berjalan bersama dalam gelap dan berhati-hati terhadap batuan yang mudah lepas. Resikonya jika batuan ini menggelinding dan menimpa pendaki lain di bawahnya.

Kami berjalan beriringan, tanpa suara. Hanya desau angin yang seakan memberi semangat untuk terus melangkah. Kerlap-kerlip lampu senter teman-teman pendaki tampak indah dengan latar belakang bayangan gelap puncak Kerinci. Di perjalanan kami melewati Tugu Yudha, sebuah tugu peringatan terhadap seorang pendaki yang hilang di tahun 1990 di lokasi ini dan hingga kini tidak ditemukan.

Satu persatu kami akhirnya tiba di atap Sumatra, Puncak Indrapura Gunung Kerinci. Berbagai ekpresi dan ritual tampak dari anggota tim. Ada yang langsung shalat subuh, ada yang langsung menancapkan tripod kamera untuk mengabadikan detik-detik sunrise, ada yang sujud syukur, ada yang terduduk dan terdiam memandang keindahan sekitar dan ada pula yang tidak mampu berkata-kata dan akhirnya tangis haru pecah di antara applause tepukan tangan pendaki lain.

Dari puncak gunung Kerinci terlihat pemandangan Danau Gunung Tujuh yang tercatat sebagai danau tertinggi di Asia Tenggara, terlihat sangat yang indah berselimutkan kabut pagi hari, sejauh mata memandang terhampar keindahan perbukitan Jambi. Tampak pula garis pantai pulau Sumatra, sangat mempesona. Jika tiba di puncak masih gelap silakan melihat ke bawah kawah. Akan tampak banyak batu lahar yang masih merah dan sangat panas di dasar kawah. Sesekali menyembur asap belerang yang menyesakkan pernafasan. (Elif06)


"Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya tanpa kita mengerti,tanpa kita bisa menawar,terimalah dan hadapilah" -Soe Hok Gie-

Ingin menikmati berdiri di puncak tertinggi gunung berapi Indonesia ?
Join the trip :
28-31 Maret 2014 & 29 Mei - 1 Juni 2014

Search
Search:
Login
Testimonial
Fatoni Astri M
Alhamdulillah.. Ini baru namanya trip ceria :)), meski medan Lantimojong begitu berat tp terasa ringan berkat guide & porter yang bener2 keren... Terima kasih DAL, Terima Kasih bang ahsan, kipli, bang... detail

Lovie Gustian
Baru Kali Ini Ikut Trip Full Service, Guide Juga Mantap & Berpengalaman, Porter yang Syariah, Pokoknya Memuaskan (Terima Kasih Dal, Terima Kasih Ahsan, Kipli, Syakban, Harun), Salam Budaya & Salam Les... detail

erika widyasari
waduh dah lama pingin tulis testimoni , baru sempet nih , gara2 pingin pergi lagi bareng Daladventure... gw kemarin bareng Dal ke gunung Semeru tgl 23 mei 2014 , kesan2 nya : 1. Tim Dalnya ramah bai... detail

Amel
Pengalaman pertama jalan bareng tim DalAdventure ke Puncak Tambora Sumbawa dan pulau Satonda bnr2 tdk terlupakan. Daerah timur indonesia emang wajib jadi destinasi wisata. Terlalu byk spot2 yg indah. ... detail

» isi testimonial
» lihat testimonial
Information