Do More Adventure !

#3 of 7 | prev product Prev - Next next product
printer email

product arrow Harmoni Wae Rebo : Negeri di Atas Awan

Menuju Wae Rebo membutuhkan perjalanan penuh perjuangan untuk menjumpai Mbaru Niang, rumah adat kerucut yang telah mendapat penghargaan warisan budaya dari UNESCO, seperti merasakan keuletan masyarakat Nusa Tenggara.
Kampung di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, yang lebih banyak dikenal wisatawan asing daripada domestik itu menyuguhkan banyak hal, seperti keelokan alam dan keramahan tulus warganya.

Perjalanan kami mulai dari kota Ruteng menuju Desa Denge yang merupakan desa terakhir yang bisa dijangkau oleh kendaraan. Sebelum memulai perjalanan kami berdoa memohon kelancaran perjalanan dan keselamatan. Di Desa Denge ini sinyal seluler sulit didapatkan. Jadi dipastikan hingga turun lagi ke Denge, kami tidak bisa berkomunikasi dengan rekan atau keluarga melalui telepon selluler.

Udara sejuk, hutan rimbun dan suara air sungai bergemericik membuat pikiran damai dan tenang meski jalan tanah yang kami hadapi menanjak dan berbatu terkadang melewati jalan licin. Pos pertama bernama Wae Lumba bisa digunakan untuk beristirahat mengatur nafas yang mulai terasa berat. Selanjutnya kami menuju ke Poco Roko. Kondisi jalurnya kurang lebih sama, namun ditambah dengan menyusuri bibir jurang yang kelihatan sangat dalam. Ada pula titik longsor tebing yang harus dilewati dengan hati-hati.

Sesekali dalam perjalanan kami berpapasan dengan beberapa penduduk Wae Rebo yang hendak turun ke desa. Biasanya warga Wae Rebo yang memiliki anak-anak yang bersekolah akan tinggal di desa di bawah dari Minggu sore hingga Sabtu siang. Selepas pulang sekolah Sabtu  siang, mereka kembali ke rumah di Wae Rebo. Setiap berpapasan dengan mereka, salam dan senyum tak pernah lepas dari bibir mereka. Tak lupa mereka menyemangati kepada kami agar tetap semangat menuju kampung mereka. Padahal melihat bawaan mereka, tampak jauh lebih berat dari yang kami bawa di ransel. Bagi mereka memikul beban 10 kilogram dan berjalan 2-4 jam naik turun bukit adalah hal yang biasa.

Setelah berjalan kaki 4 jam, kami tiba di Wae Rebo. Dari atas bukit mendadak kelelahan hilang saat melihat tujuh rumah berkerucut. Dengan setengah berlari, saya dan Clement seorang warga negara Perancis yang kebetulan kami berjalan duluan sementara rombongan saya masih tertinggal di belakang, seperti tak sabar untuk segera tiba di desa itu. Rasanya seperti pulang ke rumah, kembali ke kampung halaman.

Clement terkagum-kagum dengan desa Wae Rebo yang menurutnya sangat orisinil dan natural di ketinggian 1100 meter di atas permukaan laut ini. Dia sangat menikmati tantangan berjalan kaki menembus gunung dan hutan untuk mencapai Wae Rebo. Dia juga senang dengan suasana Wae Rebo yang tenang, jauh dari keramaian.

Kami disambut ramah oleh Kepala Adat di rumah adat utama. Kemudian kami mengikuti upacara Waelu. Dalam upacara ini, tetua adat meminta izin kepada para leluhur untuk menerima tamu serta  memohon perlindungan hingga tamu meninggalkan Wae Rebo dan kembali ke tempat asalnya. Saya sendiri sempat mencoba memainkan alat tabuh sejenis kendang yang digunakan memanggil roh leluhur.

Malamnya kami berkeliling ke salah satu rumah kerucut Mbaru Niang karena penasaran seperti apa isi rumah itu. Rumah kerucut ini sangat unik. Dari luar sepintas seperti rumah kerucut biasa. Namun ketika kami masuk ke dalam, rumah kerucut ini memiliki lima lantai. Setiap lantai memiliki ruangan dengan fungsi berbeda-beda.

Kehangatan dan keramahan masyarakat Wae Rebo membuat kami merasa seperti tinggal di rumah sendiri. Tak sulit untuk jatuh cinta pada kampung ini. Dan keunikan Wae Rebo-lah yang memikat wisatawan untuk datang berkunjung. Berkat keunikannya pula, Wae Rebo dinyatakan UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia pada Agustus 2012 menyisihkan 42 negara lain. (Elif06)

Nikmati keindahan Wae Rebo :

[30 April - 4 Mei 2014] 5 Days in Flores : Komodo - Wae Rebo

WAE REBO TRADITIONAL VILLAGE 

 

Search
Search:
Login
Testimonial
Fatoni Astri M
Alhamdulillah.. Ini baru namanya trip ceria :)), meski medan Lantimojong begitu berat tp terasa ringan berkat guide & porter yang bener2 keren... Terima kasih DAL, Terima Kasih bang ahsan, kipli, bang... detail

Lovie Gustian
Baru Kali Ini Ikut Trip Full Service, Guide Juga Mantap & Berpengalaman, Porter yang Syariah, Pokoknya Memuaskan (Terima Kasih Dal, Terima Kasih Ahsan, Kipli, Syakban, Harun), Salam Budaya & Salam Les... detail

erika widyasari
waduh dah lama pingin tulis testimoni , baru sempet nih , gara2 pingin pergi lagi bareng Daladventure... gw kemarin bareng Dal ke gunung Semeru tgl 23 mei 2014 , kesan2 nya : 1. Tim Dalnya ramah bai... detail

Amel
Pengalaman pertama jalan bareng tim DalAdventure ke Puncak Tambora Sumbawa dan pulau Satonda bnr2 tdk terlupakan. Daerah timur indonesia emang wajib jadi destinasi wisata. Terlalu byk spot2 yg indah. ... detail

» isi testimonial
» lihat testimonial
Information